Back to News

Mengingat Kematian (Zikrul Maut): Pemutus Segala Kenikmatan Rasional

Kematian adalah satu-satunya entitas absolut, misteri universal terbesar yang pasti dan tidak bisa dibantah eksistensinya oleh ateis, filosof paling rasionalis, apalagi agamawan teologis manapun di seantero alam semesta raya. Mengingat kematian secara spesifik dan teknis, yang populer disebut dengan terminologi 'Zikrul Maut', bukanlah tradisi ritual horor sektarian yang mendoktrin umat bersikap pesimis ekstrim, merintihkan keputusasaan kronis, atau membujuk manusia untuk kabur membelot dari segala dinamika kemeriahan proyeksi kemajuan dunia materiil yang serba canggih. Sebaliknya, hal tersebut adalah sistem rem hidrolik rohaniah luar biasa dahsyat yang secara akurat mendisrupsi ego narsistik megalomania, menghentikan pengejaran rakus serakah terhadap jabatan politik/sosial yang tak pernah ada batas finishnya, dan secara efektif langsung menghancurkan halusinasi gila umur ultra panjang peradaban modern.

Rasulullah SAW dengan diksi retoris provokatifnya yang ikonik pernah mewasiatkan sebuah perintah strategis yang lugas bagi pemeliharaan keseimbangan psikologis hamba: 'Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yakni: kematian).' Mengapa diistilahkan sebagai 'pemutus lezat'? Karena realitas kematian bertindak tanpa toleransi memutus tali relasi romansa pasangan berstatus menikah miliarder sekalipun, kematian sanggup mencabut rasa gurih tumpukan steak lezat bintang lima tanpa ampun, dan kematian mampu membredel kekakuan birokrasi elit dengan sekali nafas tersengal pendarahan di ujung tenggorokan (sakaratul maut). Hal ini berfungsi merontokkan total ilusi kontrol yang diklaim secara konyol oleh entitas biologis rapuh bernama spesies manusia.

Imam Al-Ghazali mendetailkan bahwa manusia yang jenius dan paling eksklusif kecerdasannya bukanlah eksekutif yang hartanya merajai Wall Street atau pakar fisika teoretis yang jenius menjabarkan teori kuantum rumit, melainkan manusia lugu yang malam harinya mempersiapkan 'bekal cadangan devisa amal' yang maha banyak karena menyadari besok pagi malaikat Izrail mungkin berdiri di atas kasurnya membawa pedang pencabut nyawa. Orang yang cerdas ini akan sangat mudah meminta maaf ketika lidahnya secara brutal kelepasan melukai perasaan teman sekantor, dia dengan mudah menarik tuil transfer bank mengirim sisa gaji ke panti jompo, dan memaafkan tetangganya tanpa harus menimbang gengsi dendam turunan berlapis, lalu sholat berlama-lama merajuk memohon surga Firdaus—karena visinya sangat tajam tertuju pada panjangnya kehidupan di fase kuburan (alam barzakh) yang lebih permanen serta absolut daripada fatamorgana kebahagiaan perumahan mewah berpagar besi anti maling di kota metropolitan.